KISAH SI KABAYAN: AKAL BUDI DI TANAH PARUNGPANJANG

Kisah Dongeng - Jejakkabar. Web. id 




Si Kabayan adalah sosok legendaris dari tatar Sunda, dikenal bukan karena kekuatan sakti seperti Si Rawing, melainkan karena akal budi dan kecerdikannya yang mengalahkan kekuasaan. Pada zaman dahulu, 


saat wilayah Parungpanjang masih berupa hamparan sawah luas dan hutan bambu, 


Si Kabayan tinggal bersama istrinya, Nyi Iteung, di pinggir aliran Kali Cimanceuri.

 

Suatu hari, datanglah seorang penguasa serakah bernama Aria Patra. Ia memiliki banyak tambang pasir dan tanah liat, 


lalu memerintahkan rakyat kampung mengangkut hasil bumi itu setiap hari tanpa istirahat, bahkan di siang hari terik matahari. Akibatnya jalan-jalan kampung berlubang dalam, air sungai keruh karena tanah longsor, dan warga kelelahan hingga tak bisa menggarap sawah sendiri. 


Siapa saja yang menolak, akan didenda berat.

 

Melihat penderitaan tetangganya, Si Kabayan berniat memberi pelajaran kepada Aria Patra. Saat sang penguasa datang menagih perintah pengangkutan, Kabayan berkata dengan santai:


"Tuanku, jalan sudah rusak parah. Jika kami lewatkan truk besar siang hari, nanti jembatan Cimanceuri ambruk dan hasil tambang Tuanku hanyut terbawa air. Lebih baik kami angkut saat malam saja, jalan lebih kuat menahan beban dan tak ada orang yang terganggu."

 

Aria Patra tidak percaya. "Buktikan padaku!" tantangnya.

 

Keesokan harinya, Kabayan mengajak Aria Patra duduk di pinggir jalan. 


Ia menyuruh dua orang pemuda membawa keranjang berisi kapas lewat di siang hari, jalan bergoyang dan berdebu tebal. Malam harinya, ia suruh mereka membawa batu besar yang jauh lebih berat lewat jalan yang sama, namun jalan terasa tenang dan kokoh.

 

"Inilah rahasianya, Tuanku," kata Kabayan sambil tersenyum. "Siang hari tanah sedang 'bernapas' kena panas matahari, jadi lunak dan mudah rusak. 


Sedangkan malam hari tanah menjadi keras dan padat, siap menahan beban berat. Begitu juga hati rakyat; jika dipaksa terus menerus, akan rusak dan hilang arah. Jika diatur dengan bijak, akan kuat bekerja melayani."

 

Aria Patra tersadar bahwa selama ini ia salah aturan. 


Ia pun mengubah perintahnya: pengangkutan hasil tambang hanya boleh berjalan mulai pukul 22.00 hingga 05.00 pagi, sesuai saran Kabayan. Jalan kembali terawat, air sungai jernih, dan warga bisa bekerja dengan tenang.

 

Konon, aturan jam operasional kendaraan tambang yang masih berlaku di wilayah Parungpanjang hingga sekarang, berakar dari ide cerdas Si Kabayan. 


Ia mengajarkan bahwa kekuasaan bukan untuk menindas, melainkan diatur dengan akal sehat agar semua pihak mendapatkan keuntungan dan ketertiban.

 

Hingga kini, warga sering berpesan: “Kalau ada masalah yang rumit, selesaikan dengan cara Si Kabayan — tenang, cerdas, dan membawa kedamaian.”

 

Editor

(Raden Oji M,. C. BK)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama