DONGENG - Jejakkabar.web.id
Dahulu kala, jauh sebelum Parungpanjang menjadi wilayah ramai seperti sekarang, di sekitar aliran Kali Cimanceuri hiduplah seorang wanita sakti bernama Nyi Pelet. Konon ia berasal dari lereng Gunung Ciremai, kemudian mengembara ke selatan karena sakit hati dan dendam lama .
Dulu ia murid kesayangan Ki Buyut Mangun Tapa, seorang pendekar pencipta Kitab Mantra Asmara yang berisi ajian Jaran Goyang — ilmu pengikat hati dan penguasaan kehendak.
Namun gurunya menolak mewariskan ilmu itu sepenuhnya, karena melihat hati Nyi Pelet terlalu penuh ambisi dan keinginan menguasai.
Karena kecewa berat, ia mencuri sebagian catatan ilmu lalu kabur, bersumpah akan membalas perlakuan itu dan membuktikan dirinya paling sakti di seluruh tanah Pasundan.
Ia tiba di hutan sebelah Kampung Cileles, membuat gubuk di tebing sungai.
Kecantikannya luar biasa, namun dibalik itu ia memiliki dendam: semua orang dianggap memandang rendah dirinya.
Ia mulai menggunakan ilmunya untuk mengganggu ketenangan warga. Jika ada pesta atau keramaian, ia menebarkan pesona sehingga orang lupa kewajiban, jalanan jadi berantakan, dan barang-barang hilang.
Lebih parah lagi, ia sering menuntun rombongan pengangkut hasil bumi atau pasir lewat siang hari, memuat berlebihan hingga jalan berlubang dan rusak parah — sebagai bentuk pembalasan kepada para tetua kampung yang menolak tunduk padanya.
Ketika Si Rawing pulang dan mulai menertibkan ketertiban jalan, Nyi Pelet merasa ditantang.
"Anak muda ini berani mengatur wilayahku!" geramnya. Ia pun bertekad merusak usaha Si Rawing.
Suatu hari, saat Si Rawing sedang mengawasi Jembatan Cimanceuri,
Nyi Pelet muncul berbalut kain sutra merah, wajah bersinar indah namun matanya tajam.
Ia melemparkan pesona Jaran Goyang, berharap Si Rawing lupa tugasnya dan tunduk padanya.
Namun Si Rawing sudah diajarkan Ki Debleng tentang keteguhan hati. Ia tidak tergoda, malah mengangkat senjata Nypelet-nya.
"Ilmu seharusnya menjaga, bukan merusak dan menguasai sesama," tegur Si Rawing.
Marah karena gagal, Nyi Pelet mengerahkan kekuatan air sungai, membuat ombak besar dan lumpur menyembur ke jalan raya.
Terjadilah pertarungan hebat di pinggir kali: kekuatan alam dan sihir melawan keteguhan hati dan keadilan. Nyi Pelet berteriak sambil melontarkan kutukan:
"Selama aku ada, jalan ini takkan pernah utuh dan damai!"
Namun Si Rawing tidak melawan dengan amarah. Ia mengayunkan Nypelet berirama, bunyi "Plett! Plett!" berpadu dengan doa dan tenaga dalam.
Bunyi itu memecah mantra pesona dan menenangkan arus sungai.
Perlahan kekuatan Nyi Pelet melemah, karena dendam ternyata memakan habis kekuatannya sendiri.
"Kepergianmu bukan karena aku mengusir, tapi karena dendam itulah yang memenjarakanmu," kata Si Rawing.
Tersadar bahwa kebenciannya takkan membawa kemenangan, Nyi Pelet akhirnya mundur ke hutan pedalaman, meninggalkan pesan bahwa ia akan kembali jika aturan dan keadilan dilanggar lagi.
Konon hingga kini, warga percaya bahwa setiap kali jalan Parungpanjang rusak parah atau ada pelanggaran aturan, itu adalah tanda ingatan dari dendam lama Nyi Pelet, dan semangat Si Rawing serta Nypelet lah yang selalu hadir untuk menegakkan ketertiban kembali.
Editor
(Raden Oji M,. C. BJ)


Posting Komentar