Kisah Anak Durhaka || Jejakkabar.web.id
Di sebuah desa tinggalah seorang ibu tua bernama Siti yang hidup sederhana bersama putra tunggalnya, Rian. Sejak kecil, Siti berjuang keras bekerja sebagai buruh tani demi membiayai kebutuhan dan sekolah Rian. Namun, setelah dewasa dan berhasil menjadi pedagang kaya di kota, Rian berubah sikap.
Ia merasa ibunya hanyalah beban karena penampilannya lusuh dan tidak pandai berbicara halus.
Suatu hari, Rian pulang ke desa dengan mobil mewah.
Ia berniat membawa ibunya tinggal bersamanya, namun dengan syarat berat.
"Ibu harus tinggal di ruang belakang rumah, jangan keluar saat ada tamu, dan jangan pernah menyebut diri sebagai ibuku," ucap Rian dengan nada dingin.
Hati Siti terasa perih, namun ia tetap mengikuti permintaan anaknya karena rasa sayang yang tak terhingga.
Beberapa bulan berlalu, Rian berencana pergi berdagang ke seberang laut. Sebelum berangkat, Siti memanggilnya dan memberikan sebungkus makanan kering.
"Ini bekal untuk perjalananmu, Nak. Ingatlah untuk berhati-hati dan selalu berdoa," kata Siti lembut. Rian hanya menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih, lalu berangkat.
Di tengah perjalanan, kapal yang ditumpangi Rian dihantam badai besar.
Kapal itu karam dan semua barang dagangannya hilang.
Rian selamat terdampar di pulau tak berpenghuni, namun ia terluka parah dan kehabisan bekal. Saat putus asa, ia teringat bungkusan makanan dari ibunya.
Saat dibuka, selain makanan, ia menemukan secarik kertas bertuliskan: "Anakku, harta bisa hilang, jabatan bisa runtuh, namun kasih sayang ibu kepadamu tidak akan pernah berakhir. Maafkan segala kekurangan ibu."
Air mata Rian mengalir deras. Ia sadar betapa dosanya telah menyakiti wanita yang telah mengorbankan seluruh hidupnya. Berkat bantuan nelayan yang lewat, ia berhasil kembali ke kampung halaman.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di beranda dengan wajah penuh kerinduan. Rian langsung berlutut di kaki ibunya, menangis dan memohon ampun.
"Ibu, maafkan aku yang telah durhaka. Harta dan jabatan yang aku banggakan tidak ada artinya dibandingkan kasih sayang Ibu," ucapnya menyesal.
Siti memeluk putranya dengan lembut, tanpa rasa dendam.
Sejak hari itu, Rian berubah menjadi anak yang berbakti.
Ia merawat ibunya dengan penuh kasih sayang hingga akhir hayatnya, dan selalu mengingatkan orang lain bahwa surga berada di telapak kaki ibu.
Pesan Moral
Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban utama, dan kesuksesan sejati tidak akan lengkap tanpa ridho mereka.
Harta dan kedudukan bersifat sementara, namun kasih sayang orang tua adalah anugerah abadi yang tidak tergantikan.
Editor
(Raden Oji M,. C. BJ)



Posting Komentar