Kisah Seorang Nabi || Jejakkabar.web.id
Nabi Ayub adalah seorang nabi yang dikenal akan kesabaran dan keimanan yang luar biasa.
Ia tinggal di wilayah Syam, dikaruniai Allah harta kekayaan melimpah, ternak yang banyak, tanah subur, serta memiliki istri dan anak-anak yang saleh dan berbakti.
Hidupnya sangat bahagia dan ia senantiasa beribadah serta bersyukur kepada Allah SWT.
Suatu ketika, Allah ingin menguji keteguhan imannya.
Secara bertahap, semua nikmat itu dicabut. Harta bendanya habis dirampok dan hancur, ternak dimangsa binatang buas, dan seluruh anak-anaknya meninggal dunia akibat musibah bangunan runtuh. Namun Nabi Ayub tetap bersyukur, berkata.
“Segala sesuatu milik Allah, jika Dia mengambil maka itu adalah hak-Nya, dan jika Dia memberi itu juga rahmat-Nya” .
Ujian belum selesai.
Kemudian Allah mengujinya dengan penyakit kulit yang parah dan menyakitkan, menimpa seluruh tubuhnya selama kurang lebih 18 tahun.
Tubuhnya penuh luka bernanah, hingga ia harus tinggal di luar pemukiman dan dijauhi orang-orang.
Hanya istrinya yang setia tetap merawat dan menemaninya, meski mereka hidup dalam kemiskinan yang sangat berat .
Banyak orang mengira ia terkena penyakit karena dosa, namun Nabi Ayub tidak pernah mengeluh atau berputus asa. Ia tetap berdoa dan menyebut nama Allah.
Hingga suatu hari, saat rasa sakit dan kesulitan semakin berat, ia berdoa dengan lembut: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang" (QS. Al-Anbiya: 83).
Mendengar doa hamba-Nya yang sabar itu, Allah mengutus malaikat Jibril dan berfirman: "Hentakkanlah kakimu ke tanah!". Saat Nabi Ayub menghentakkan kakinya, muncul mata air sejuk.
Ia membasuh dan minum dari air itu, seketika penyakitnya hilang, tubuhnya kembali sehat dan tampan seperti semula.
Allah mengembalikan harta, keturunan, dan kemuliaannya berlipat ganda dari sebelumnya sebagai balasan kesabarannya .
Pesan Moral
1. Kesabaran adalah kunci melewati setiap ujian hidup. Semua kesulitan ada batasnya dan di baliknya pasti ada kemudahan.
2. Jangan pernah mengeluh atau menyalahkan Tuhan saat tertimpa musibah, karena ujian adalah cara Allah mengangkat derajat hamba-Nya.
3. Keimanan yang kokoh tetap teguh, baik saat dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit.
4. Kesetiaan pasangan dan dukungan orang terdekat sangat berharga saat kita sedang dalam kesusahan.
Editor
(Raden Oji M,. C. BJ)


Posting Komentar