KISAH DONGENG: SI RAWING, PENDEKAR BERHATI MULIA DARI TANAH PARUNGPANJANG

KISAH DONGENG Jejakkabar.web.id

 


Dahulu kala, di wilayah perbatasan Bogor dan Tangerang, tepatnya di sekitaran Parungpanjang, terdapat sebuah kampung damai bernama Kampung Cileles. Di sana tinggallah seorang anak bernama Darma, anak tunggal dari pasangan petani yang rajin dan jujur.

 


Kedamaian kampung itu runtuh ketika datang gerombolan penjahat pimpinan Bah Bewok, yang terkenal kejam dan serakah. Mereka merampok hasil panen, membakar rumah warga, dan membunuh siapa saja yang berani melawan. Saat serangan itu, ayah dan ibu Darma gugur membela kampung. Darma sendiri terluka parah, telinga kirinya tersabet golok Bah Bewok hingga terbelah, sehingga orang kemudian memanggilnya Si Rawing.

 



Beruntung, seorang kakek sakti bernama Ki Debleng yang sedang melintas menyelamatkannya. Kakek itu adalah pendekar pertapa yang menguasai ilmu silat tinggi dan pengetahuan alam. 


Darma dibawa ke gubuk di tengah hutan, dirawat hingga sembuh, lalu diangkat menjadi murid. Selama bertahun-tahun, Si Rawing berlatih keras: mengendalikan tenaga dalam, menguasai jurus andalan Puspa Cimanceuri, hingga pandai membaca jejak dan mengenali ramuan obat.

 

Ki Debleng selalu berpesan: "Ilmu tinggi bukan untuk membalas dendam, tapi untuk melindungi yang lemah dan menegakkan kebenaran."

 

Setelah dewasa dan menjadi pendekar tangguh, Si Rawing kembali ke kampung halamannya. 


Ia mendapati warga masih hidup dalam ketakutan dan kesusahan, jalan berlubang karena diterobos gerobak pencuri hasil bumi, dan banyak warga dirugikan. Tanpa ragu, Si Rawing bergerak. 


Bersama pemuda kampung, ia mengatur penjagaan di titik strategis seperti Jembatan Cimanceuri dan jalan utama Moh. Toha. 


Ia menegakkan aturan: kendaraan pengangkut hasil bumi atau bahan tambang hanya boleh lewat malam hari agar jalan tetap terjaga dan warga aman.

 

Suatu hari, Bah Bewok kembali datang dengan kekuatan lebih besar berniat menguasai seluruh wilayah Parungpanjang. Terjadilah pertarungan sengit di pinggir kali Cimanceuri. 


Dengan kesabaran dan ilmu yang penuh kebijaksanaan, Si Rawing berhasil mengalahkan Bah Bewok tanpa membunuhnya, melainkan membuatnya sadar dan berjanji tidak akan mengganggu ketenangan lagi.

 

Sejak saat itu, nama Si Rawing menjadi legenda. Ia tidak hanya dikenal sebagai pendekar sakti, tetapi juga pelindung warga. Aturan yang dibuatnya tentang ketertiban jalan dan perlindungan rakyat tetap dikenang hingga kini, menjadi dasar semangat petugas dan warga Parungpanjang dalam menjaga ketertiban bersama.

 

Konon, jejak keberanian dan kejujuran Si Rawing masih terasa di sepanjang jalan Parungpanjang, mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati adalah kekuatan yang digunakan untuk melayani dan melindungi sesama.

 

 Editor

(Raden Oji M,. C. BJ)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama