Kisah Bawang Merah dan Bawang Putih

Legenda Bawang Merah Bawang Putih || Jejakkabar.web.id





Dahulu kala, di sebuah desa dekat kaki gunung, hiduplah seorang janda bersama dua anak gadisnya. 


Anak kandungnya bernama Bawang Merah, yang berwajah cantik namun memiliki hati yang sombong dan pemalas. Anak tirinya bernama Bawang Putih. 


Ia tidak kalah cantik, namun sifatnya sangat rajin, rendah hati, dan baik hati.

 

Ibu tiri dan Bawang Merah sering bersikap tidak adil. 


Segala pekerjaan berat selalu dibebankan kepada Bawang Putih, sedangkan Bawang Merah hanya berdandan dan bersantai. 


Meskipun sering diperlakukan buruk, Bawang Putih tidak pernah mengeluh dan tetap berbakti kepada mereka.

 

Suatu hari, saat mencuci pakaian di sungai, salah satu kain milik ibu tirinya hanyut terbawa arus. 


Bawang Putih sangat ketakutan, sebab jika pulang tanpa kain itu ia pasti akan dimarahi. 


Ia pun berjalan menyusuri tepi sungai berharap menemukan kain tersebut. 


Setelah berjalan cukup jauh, ia sampai di sebuah gubuk tua milik seorang nenek yang tinggal sendirian.

 

Nenek itu ternyata menemukan kain yang dicarinya. Sebagai imbalan, 


Bawang Putih membantu membersihkan rumah, memasak, dan menyiapkan kayu bakar selama beberapa hari. 


Ketika hendak pulang, nenek itu memberikan hadiah berupa dua buah labu dan memintanya memilih satu. 


Bawang Putih memilih labu yang berukuran kecil karena terasa lebih mudah dibawa.

 

Sesampainya di rumah, saat labu itu dibelah, keluarlah permata dan emas yang sangat banyak. Ibu tiri dan Bawang Merah terkejut sekaligus iri hati. 


Mereka memaksa Bawang Putih menceritakan kejadian sebenarnya.

 

Keesokan harinya, Bawang Merah sengaja pergi ke sungai dan membiarkan kainnya hanyut. 


Ia berjalan ke arah gubuk nenek itu. Namun, saat diminta membantu pekerjaan rumah, Bawang Merah menolak dan hanya mau bersantai. 


Saat hendak pulang, ia pun diberi pilihan dua buah labu. 


Dengan serakah, ia langsung mengambil labu yang berukuran besar, yakin isinya akan lebih banyak harta.

 

Sesampainya di rumah, Bawang Merah dan ibunya segera membelah labu besar itu. 


Alih-alih emas dan permata, keluarlah berbagai jenis hewan berbisa seperti ular, kalajengking, dan kelabang. 


Mereka sangat terkejut dan ketakutan, lalu menyadari bahwa semua kejadian itu adalah akibat dari sifat buruk mereka.

 

Sejak saat itu, ibu tiri dan Bawang Merah berjanji untuk mengubah sikap mereka. Mereka mulai bersikap baik dan hidup rukun bersama Bawang Putih selamanya.

 

 

Cerita ini mengajarkan kita bahwa kebaikan hati dan ketekunan akan membawa kebahagiaan, sedangkan keserakahan dan kejahatan hanya akan mendatangkan kesusahan.

 

Editor

(Raden Oji M,. C. BJ)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama