TANGERANG | Jejakkabar.web.id– Pemilihan kepala desa adalah bagian dari demokrasi untuk memilih pemimpin, namun persaingan dalam kontestasi tersebut tidak boleh menjadi jurang pemisah persaudaraan sesama warga.
Seorang pemimpin sejati tidak pernah memandang siapa yang memilih dan siapa yang tidak, karena tugas dan tanggung jawabnya adalah melayani seluruh warga tanpa terkecuali.
Pesan mendalam ini disampaikan kembali oleh Raden Oji M., C. BJ selaku Pimpinan Redaksi Jejakkabar.web.id, yang mengingatkan pentingnya sikap lapang dada dan jiwa besar bagi siapa saja yang telah dipercaya memegang tampuk pimpinan di tengah masyarakat.
"Jangan pernah memandang sebelah mata pada masyarakat yang tidak memilih kita saat pencalonan kepala desa.
Ketika kita jadi, tetaplah kita anggap mereka sebagai bagian dari masyarakat kita sendiri.
Jadilah orang baik, jadilah pemimpin yang meneladani ajaran luhur Pajajaran dari Prabu Siliwangi: Sami Rasa, Sami Asih, Silih Asah, Silih Asih," tegas Raden Oji dalam pernyataannya, Kamis, (28/5/2026).
TIDAK ADA MUSUH, SEMUA ADALAH SAUDARA
Menurutnya, kemenangan dalam pemilihan adalah amanah dari Tuhan dan kepercayaan rakyat, bukan kemenangan untuk menindas atau membedakan-bedakan.
Sikap memandang sebelah mata, mendiskriminasi, atau melupakan mereka yang tidak memberikan suara adalah ciri pemimpin yang sempit wawasannya dan tidak siap memikul tanggung jawab besar.
"Yang memilih maupun yang tidak memilih, semuanya adalah warga desa yang kita pimpin.
Mereka punya hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan, kesejahteraan, dan perhatian.
Kalau kita baru jadi saja sudah membeda-bedakan, bagaimana mungkin kita bisa memajukan desa ini bersama-sama?" tambahnya.
TELADAN LUHUR AJARAN PRABU SILIHWANGI
Raden Oji mengajak seluruh pemimpin daerah, khususnya tingkat desa, untuk kembali meresapi filosofi agung warisan Kerajaan Pajajaran yang diwariskan oleh Prabu Siliwangi, yang menjadi pondasi karakter kepemimpinan masyarakat Sunda, yaitu:
1. Sami Rasa: Merasakan apa yang dirasakan orang lain, memiliki rasa kebersamaan dan kesetaraan, tidak merasa lebih tinggi atau lebih hebat dari rakyatnya.
2. Sami Asih: Saling mengasihi, memiliki rasa cinta kasih yang sama kepada seluruh rakyat tanpa membeda-bedakan asal usul, kedudukan, atau pilihan politik.
3. Silih Asah: Saling mengasah, saling mengajarkan, saling memperbaiki, dan saling menegur dalam kebaikan demi kemajuan bersama.
4. Silih Asih: Saling menyayangi, saling melindungi, dan saling mengisi kekurangan satu sama lain bagaikan satu tubuh yang utuh.
PEMIMPIN ADALAH PELAYAN, BUKAN PENGUASA
Filosofi ini mengajarkan bahwa kekuasaan sejati bukanlah tentang berkuasa di atas orang lain, melainkan kemampuan untuk melayani dan menyatukan hati yang berbeda menjadi satu kekuatan.
Seperti Prabu Siliwangi yang dikenal sebagai raja yang bijaksana, dicintai rakyatnya, dan mengutamakan persatuan di atas segalanya.
"Jadilah pemimpin yang membawa kedamaian.
Waktu kampanye kita meminta dukungan kepada semua orang, maka saat memimpin kita pun wajib melayani semua orang.
Yang kemarin berbeda pilihan, hari ini dan esok harus kita rangkul bersama untuk membangun desa.
Itulah inti dari kepemimpinan yang mulia," pesannya mengakhiri.
Pesan ini menjadi cermin bagi para pemimpin: Bahwa kemenangan sejati bukanlah saat mengalahkan lawan, melainkan saat berhasil menyatukan hati seluruh masyarakat dalam kebersamaan, kasih sayang, dan kemajuan.
Penulis: Raden Oji M., C. BJ
Sumber: Jejakkabar.web.id

Posting Komentar