Ada rasa harap-harap cemas yang perlahan berubah menjadi kekecewaan sederhana: “Daging kurban yang ditunggu-tunggu, tak kunjung tiba di tangan.”
Ungkapan ini disampaikan oleh Raden Oji, sekitar saat menengok keadaan di lingkungan sekitar dan mendengar keluhan sederhana dari warga, khususnya kaum ibu dan anak-anak yang sudah bersiap menanti pembagian daging.
“Di banyak sudut kampung dan perumahan, terlihat wajah-wajah yang menunggu.
Sudah siang, sudah sore, bahkan hari mulai berganti, tapi kantong plastik berisi daging yang diharapkan itu tak kunjung sampai. Ada yang menunggu di depan rumah, ada yang bertanya-tanya pada tetangga: '
Apakah tahun ini kami tidak kebagian?',” ujar salah satu warga, Pada hari Kamis (28/5/2026).
ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN
Bagi keluarga yang ekonominya pas-pasan atau kurang mampu, daging kurban bukan sekadar lauk biasa. Ini adalah momen istimewa, satu kali dalam setahun, di mana mereka bisa merasakan nikmatnya makan daging sapi atau kambing yang biasanya sangat jarang tersaji di meja makan.
Karena itu, penantian itu terasa panjang dan berat.
Ada anak-anak yang bertanya pada ibunya: “Bu, katanya hari ini makan enak, mana dagingnya?”
Ada ibu-ibu yang sudah menyiapkan bumbu dan panci, namun sampai malam tetap kosong tangannya.
Ada pula yang diam saja, menelan kekecewaan dalam hati, takut dianggap serakah kalau terus bertanya.
Mengapa bisa terjadi?
Banyak sebabnya: hewan kurban yang jumlahnya terbatas, panitia yang kurang jangkauan pembagiannya, atau prioritas yang keliru—terkadang justru orang yang sudah berkecukupan yang kebagian banyak, sementara yang benar-benar butuh malah terlewatkan.
PESAN DAN RENUNGAN: MAKNA KURBAN YANG SESUNGGUHNYA
Menurut Raden Oji, fenomena ini menjadi cermin bagi kita semua, khususnya para panitia, penyembelih, dan orang yang mampu, agar lebih teliti dan peka. Kurban itu intinya adalah.
IBADAH BERBAGI dan MENYEMPURNAKAN KETAQWAAN.
“Kalau daging kurban tak kunjung tiba, bagi yang menunggu, mari kita ingat satu hal penting: Kebahagiaan dan rezeki tidak hanya datang dari sepotong daging.
Mungkin Allah ingin menguji kesabaran dan rasa syukur kita. Mungkin Allah sedang menyiapkan rezeki lain yang jauh lebih besar dan lebih berkah lewat jalan yang lain,” pesannya menenangkan.
Sebaliknya, bagi yang mendapat bagian berlimpah, ingatlah tetangga kiri-kanan, orang tua tunggal, janda, anak yatim, dan keluarga yang hidupnya sederhana.
Jangan sampai daging menumpuk di rumah kita sampai basi atau berlebih, sementara tetangga sebelah rumah hanya mencium baunya tapi tidak merasakannya.
PERINGATAN KERAS:
Kurban bukan pesta untuk orang kaya saja.
Daging kurban itu haknya orang yang membutuhkan.
Kalau pembagiannya salah sasaran, pahala kurban tetap diterima penyembelih, tapi nilai kemuliaan dan keadilan ajaran Islamnya yang menjadi cacat.
PENUTUP YANG MENGUATKAN
Bagi saudara yang hari ini masih menanti dan daging itu tak kunjung datang:
“Jangan bersedih hati dan jangan merasa rendah diri.
Ketiadaan daging di piringmu hari ini tidak mengurangi kemuliaanmu di sisi Allah.
Makanlah apa yang ada, syukuri yang tersedia. Karena sesungguhnya, hati yang lapang dan jiwa yang bersih adalah nikmat yang jauh lebih mahal harganya daripada sekadar sepotong daging semata.”
Semoga tahun depan, pemerataan rezeki dan kebahagiaan kurban bisa dirasakan oleh semua, tanpa ada yang tertinggal dan menunggu dengan harap-harap cemas.
Penulis: Raden Oji M., C. BJ


Posting Komentar