TIF BIASANYA IBU-IBU YANG PINJAM DI BANK EMOK DAN BANG KELILING: PUSING DAN PENYAKIT HATI BUATAN SENDIRI




TANGERANG | Jejakkabar.web.id – Fenomena meminjam uang pada rentenir keliling atau yang akrab disebut “Bank Emok”, “Bank Keliling”, atau “Bang Keliling” sudah menjadi pemandangan lumrah di kalangan ibu-ibu rumah tangga, terutama di daerah perkampungan dan padat penduduk. Awalnya terasa mudah dan cepat, tapi ujungnya? Pusing tujuh keliling dan penyakit hati yang tak kunjung sembuh.

 



Hal ini disorot tajam oleh Raden Oji M, yang mengajak masyarakat, khususnya kaum ibu, untuk merenungi kembali: bahwasanya kesulitan ini sejatinya dibuat oleh tangan dan keinginan sendiri.

 

“Biasanya bagi ibu-ibu yang suka pinjam di Bank Emok atau Bang Keliling, yang dirasakan kemudian hari adalah pusing kepala, susah tidur, dan penyakit hati. 


Ingat, semua itu sejatinya dibuat oleh diri sendiri, karena tergoda kemudahan sesaat tanpa memikirkan akibat panjangnya,” ungkap Raden Oji, Kamis (28/5/2026).

 

MULANYA MUDAH, UJUNGNYA SENGSARAH

 

Meminjam ke rentenir memang sangat gampang: tidak butuh syarat ribet, tidak butuh jaminan, uang langsung cair di tangan dalam hitungan menit. Karena kemudahan itulah, banyak ibu-ibu tergoda, entah untuk kebutuhan dapur, biaya sekolah, atau bahkan hanya untuk menuruti keinginan belanja yang sebenarnya tidak mendesak.

 

Tapi, di balik kemudahan itu tersembunyi jeratan bunga yang sangat tinggi dan menyesakkan dada:

 

Pinjam sejuta, yang diterima mungkin cuma 900 ribu (sudah dipotong bunga muka).


Angsuran harus dibayar setiap hari atau setiap minggu dengan jumlah yang berat.


Kalau telat sehari, denda berlipat, penagih datang ke rumah, kadang dengan nada keras atau muka masam.

 

PENYAKIT HATI YANG DIRASAKAN

 

Inilah yang paling mahal harganya, jauh lebih mahal dari bunga pinjaman itu sendiri:

 

1. Hati Selalu Gelisah & Takut


Tiap kali mendengar suara motor atau orang lewat di depan rumah, jantung sudah berdebar: “Jangan-jangan penagih utang datang.” Tiap hari kepikiran: “Uang bayar utang dari mana ya?” Hati tidak pernah tenang, tidur tidak nyenyak, makan pun tak enak.


2. Malu & Hilang Wibawa

Muka jadi merah padam kalau ditagih di depan tetangga. Nama baik jadi taruhannya. Padahal dulu dikenal orang baik, tapi gara-gara utang, jadi merasa rendah diri dan serba salah.


3. Lingkaran Setan: Gali Lubang Tutup Lubang

Ini yang paling parah. 


Karena angsuran berat, akhirnya cari jalan pintas: pinjam ke rentenir lain untuk bayar utang yang lama. 


Akibatnya? Utang makin banyak, bunga makin menumpuk, dan pusingnya makin menjadi-jadi.


4. Saling Salah dalam Keluarga

Sering kali masalah ini memicu pertengkaran suami istri. 


Suami marah karena utang menumpuk, istri menangis karena bingung dan terdesak. Rumah tangga yang seharusnya damai, jadi panas dan penuh beban.

 


Sering kita dengar keluhan: 'Ah nasib saya sial, kenapa begini terus hidup saya'. Padahal kalau dilihat ke belakang, sial itu bukan datang dari langit, tapi datang karena kita sendiri yang membuka pintu kesulitan. Kita sendiri yang memutuskan meminjam, kita sendiri yang tergoda kemudahan, lalu kita sendiri yang merasakan sakitnya,” tegas Raden Oji mengingatkan dengan nada tegas namun penuh kasih.

 

SOLUSI DAN PENGINGAT PENTING

 

Menurutnya, tidak ada orang yang mau susah, tapi susah itu sering kali buah dari keputusan sendiri. Oleh karena itu, pesan ini ditujukan khusus bagi para ibu:

 

Tahan Keinginan, Utamakan Kebutuhan


angan ikut-ikutan gaya hidup atau belanja yang tidak sesuai kantong. Kalau uangnya belum ada, tunda dulu. 


Makan sederhana asal tenang hati, jauh lebih nikmat daripada makan enak tapi hasil utang dan hati was-was.

 

Hindari Bank Emok Sebisa Mungkin


Sekali masuk, sangat sulit keluar. Bunga yang tinggi itu ibarat jeratan tali yang makin lama makin mengikat leher. Lebih baik meminjam ke saudara, tetangga, atau koperasi resmi yang bunganya kecil dan wajar.

 

Ingat: Penyakit Hati Itu Obatnya Ada di Diri Sendiri


Kalau sekarang sedang terjerat, segera cari jalan keluar. Kurangi pengeluaran, cari tambahan nafkah, dan minta maaf pada keluarga. Berhenti meminjam lagi, biarpun berat di awal, tapi lama-lama beban akan hilang dan hati akan sehat kembali.

 

“Hidup itu indah kalau hati tenang. Jangan jual ketenangan hati dan kedamaian rumah tangga hanya karena uang sekejap yang kita ambil dari rentenir. Ingat, pusing dan sakit hati itu kita buat sendiri, dan kitalah yang paling berhak menyembuhkannya,” tutupnya. 🤲✨

 

Penulis: Raden Oji M., C. BJ

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama