Betapa Berat dan Tidak Seimbangnya keadaan Tersebut

Jejakkabar.web.id





Istri Hura-Hura Suami banting tulang jadi kuli, berpanas berhujan demi sekadar mencukupi kebutuhan keluarga





Setiap tetes keringatnya adalah rezeki yang halal, dikumpulkan sedikit demi sedikit dengan rasa lelah yang tak pernah ia ceritakan, berharap isteri dan anak-anak bisa hidup tenang dan berkecukupan. 


Pulang ke rumah dengan badan pegal linu, pakaian lusuh dan penuh debu, ia tak pernah mengeluh, karena baginya kewajiban menafkahi adalah kehormatan yang harus ia jalani sekuat tenaga.

 

Namun sayang, apa yang terjadi di rumah sangat bertolak belakang. 


Istrinya justru asyik hura-hura, gemar bersenang-senang, bergaya mewah dan hidup bermewah-mewah seolah keluarganya kaya raya. 


Uang hasil keringat suami yang susah payah didapat, ia habiskan begitu saja untuk fesyen, pesta, berkumpul dengan teman-teman, atau hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat. 


Ia tidak peduli berapa berat beban yang dipikul suaminya, tidak tahu rasa syukur, dan tidak berusaha menghemat atau mengatur keuangan rumah tangga dengan bijak. 


Baginya, yang penting dirinya terlihat indah dan bahagia di luar sana, meskipun di balik itu ada suami yang menahan lapar dan lelah.

 

Inilah ketimpangan yang sangat menyakitkan: satu pihak berjuang mati-matian menjaga kelangsungan hidup.


Sementara pihak satunya lagi dengan santai menghambur-hamburkan apa yang belum tentu abadi. 


Akibatnya, rezeki pun tak mau bertahan, habis tak bersisa tanpa ada sisa. Kerja keras bertahun-tahun menjadi sia-sia belaka. 


Bukan hanya harta yang musnah, tapi rasa hormat, kasih sayang, dan keharmonisan rumah tangga perlahan-lahan ikut hancur. 


Suami yang tadinya penuh semangat bekerja akhirnya patah hati, merasa tidak dihargai, dan sadar bahwa apa yang ia perjuangkan selama ini ternyata tidak berharga di mata orang yang seharusnya ia lindungi."**

 

 EDITOR : Raden Oji M,. C. BJ

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama