AZAB DOSA ISTRI YANG SUKA HURA-HURA: KERINGAT SUAMI DIANGGAP SAMPAH

Jejakkabar.web.id




Di sebuah kampung, tinggallah sepasang suami istri bernama Rian dan Sari. 




Rian adalah seorang kuli bangunan yang sangat rajin. 


Setiap hari, sebelum matahari terbit ia sudah berangkat ke lokasi proyek. 


KokBerpanas-panas di bawah terik matahari, mengangkat beban berat, memikul semen dan bata hingga pundaknya lecet dan kakinya berdarah. 


Uang yang didapatnya tidaklah banyak, itu pun ia kumpulkan dengan susah payah, berharap bisa menabung untuk masa depan anak-anaknya dan membangun rumah yang lebih layak. 


Pakaiannya sederhana, seringkali berlubang, namun ia tak pernah mengeluh. Baginya, yang penting istrinya dan anak-anaknya bisa makan enak dan berpakaian layak.

 

Namun sayang, apa daya kalau suami sudah bekerja mati-matian, tapi istri tidak punya rasa syukur. 


Sari, istrinya, sifatnya sangat berbeda. 


Ia tidak pernah sekalipun bertanya: "Mas, capek tidak? 


Kamu makan sudah belum?" Yang ada di pikirannya hanyalah kesenangan diri sendiri. 


Setiap kali Rian pulang dan menyerahkan seluruh hasil kerjanya, uang itu langsung direbut Sari.

 

Uang hasil keringat bercucuran itu tidak dipakai untuk beli beras, tidak untuk bayar listrik, dan tidak untuk kebutuhan rumah. 


Sari malah pergi ke pasar, membeli baju-baju mahal, perhiasan, dan kosmetik yang tidak perlu. 


Siang hingga malam, ia habiskan waktunya untuk pesta, kumpul-kumpul dengan tetangga, makan-makan di luar, dan hura-hura sepuas hati. 


Ia berpakaian bagus dan cantik bak orang kaya raya, padahal suaminya pulang kerja membawa badan penuh debu dan kotoran.

 

Bahkan seringkali, saat Rian pulang lelah dan lapar, tidak ada makanan di rumah. 


Uangnya sudah habis diborong Sari untuk makan bakso berbakul-bakul, jajan, dan bersenang-senang bersama teman-temannya. 


Rian hanya bisa diam dan menahan sakit hati, batinnya menangis melihat jerih payahnya dianggap sampah oleh istrinya sendiri. 


Ia sadar, apa yang ia cari dengan susah payah, dihamburkan begitu saja oleh wanita yang seharusnya menjadi teman hidup dan penolongnya.

 

Dan inilah hukum alam serta azab dari Allah SWT yang tidak pernah salah janji:

 

1. Rezeki Mulai Diputus: Lama-kelamaan, pekerjaan Rian jadi sering putus. Proyek yang biasa ia kerjakan berhenti mendadak. 


Uang yang biasanya ada, tiba-tiba jadi sulit didapat. 


Setiap kali ada rezeki datang, pasti ada saja musibah yang membuat uang itu hilang begitu saja. 


Sari bingung, kenapa hidup mereka makin susah padahal dulu cukup? 


Ia tidak sadar, rezeki itu kabur karena dibawa ke jalan yang tidak benar. 


Uang hasil keringat yang dihamburkan untuk kesenangan semata itu tidak berkah, malah mendatangkan murka Tuhan.


2. Penyakit Datang Bertubi-tubi: Sari yang dulu selalu sehat dan cantik, tiba-tiba tubuhnya mulai lemah. 


Penyakit datang satu per satu. 


Sakit kepala, sakit perut, hingga penyakit kulit yang membuatnya tidak bisa bersolek lagi. 


Uang yang dulu ia pakai untuk pesta, sekarang habis untuk berobat ke sana-sini. 


Ia yang dulu sombong dan selalu pamer, sekarang harus diam di rumah, terbaring lemah, dan tidak ada lagi teman yang datang menengok. 


Teman hura-hura hanya ada saat ada uang dan pesta, saat susah semuanya pergi meninggalkan.


3. Harta Habis, Kehormatan Hilang : 


Semua perhiasan dan baju mahal yang ia beli hasil kerja keras suami, akhirnya harus dijual murah hanya untuk menutupi hutang dan biaya hidup. 


Ia yang dulu merasa paling hebat dan paling beruntung, kini menjadi bahan pembicaraan tetangga. 


Orang-orang menggunjing, "Itu dia istri yang dulu suka pesta, sekarang lihatlah nasibnya. 


Kaya kemarin saja, miskin hari ini." Kehormatannya runtuh, dan ia hidup dalam rasa malu yang luar biasa.


4. Hati Suami Menjadi Pahit : 


Azab terbesar dan yang paling berat adalah hati suami yang sudah tidak ada lagi rasa cinta dan hormat. 


Rian yang dulu rela mati-matian demi istrinya, perlahan berubah menjadi dingin. 


Ia sadar, istrinya bukan pendamping hidup, tapi beban hidup. 


Rasa sayang itu perlahan mati, digantikan rasa kecewa yang mendalam. 


Rumah yang seharusnya jadi tempat istirahat, jadi tempat yang paling menyesakkan. 


Dan ingatlah, keluh kesah seorang suami yang terzalimi itu doanya tidak ada penghalang. 


Setiap tetes air mata dan keringat yang disia-siakan itu menjadi saksi di hadapan Allah.

 

PESAN PENTING:

Wahai para istri, ingatlah! Uang suami itu adalah amanah dan rezeki yang didapat dengan perjuangan berat. 


Menghamburkannya untuk kesenangan diri sendiri, sementara suami berjuang mati-matian, adalah dosa besar. Itu termasuk menyia-nyiakan nikmat dan tidak bersyukur.

 

Dunia ini hanya sementara, harta hanya titipan. 


Jangan sampai karena ingin terlihat mewah sesaat di mata manusia, kita mendapatkan azab yang pedih baik di dunia maupun di akhirat. 


Jadilah istri yang pandai bersyukur, pandai menjaga harta, dan bisa menjadi penyejuk hati suami. 


Karena kebahagiaan rumah tangga itu bukan dilihat dari mewahnya pesta, tapi dari berkahnya rezeki dan damainya hati di dalam rumah.



EDITOR : Raden Oji M,. C. BJ

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama