Di Balik Kegelapan dan Keheningan: Indahnya Dunia yang Dirasakan Hati



BOGOR
- Jejakkabar.web.id– Selasa, 2 Juni 2026 - Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh warna dan cahaya, ada sosok yang menjalani hidup dalam kegelapan total dan kebisuan abadi. 


Ia adalah seorang yang lahir dalam keadaan buta, tuli, dan tuna wisma, seolah hidupnya diselimuti selubung kelam yang tak berujung. Bagi orang lain, dunia ini terlihat luas, cerah, dan penuh pemandangan, namun baginya, semuanya hanyalah gelap gulita yang tak pernah berubah.

 

Seringkali orang bertanya-tanya, bagaimana rasanya hidup tanpa bisa melihat sinar matahari, tanpa bisa mendengar suara angin, dan tanpa tempat berteduh yang nyaman? Apakah hidupnya terasa sepi, kosong, dan penuh penderitaan? 


Namun, pandangan itu perlahan berubah ketika kita mencoba memahami cara ia melihat dunia.

 

Meskipun matanya tak mampu menangkap cahaya dan telinganya tak bisa menangkap getaran suara, ia memiliki cara sendiri untuk mengenali dan merasakan keindahan yang ada. 


Dunia baginya bukanlah apa yang terlihat oleh mata, melainkan apa yang dirasakan oleh hati dan jiwa. 


Ada satu hal yang menjadi jembatan penghubungnya dengan kehidupan: suara saujana dan perasaan yang terpancar dari orang-orang di sekelilingnya.

 

Bagi sosok ini, keindahan dunia tidak hilang hanya karena ia tak bisa melihatnya. 


Justru, ia melihat keindahan yang seringkali terlewatkan oleh mata kita—keindahan yang tersembunyi dalam ketulusan, kehangatan, dan rasa kasih sayang. 


Melalui sentuhan, getaran, dan perasaan yang ia tangkap, ia tahu bahwa dunia ini indah. 


Ia merasakan kelembutan ketika ada tangan yang menggenggamnya, ia merasakan ketenangan ketika ada kehadiran yang mendampinginya, dan ia merasakan kebahagiaan dari ikatan batin yang terjalin.

 

Kisah hidupnya mengajarkan kita satu kebenaran yang mendalam: bahwa penglihatan yang sejati tidak selalu berasal dari mata, dan pendengaran yang sejati tidak selalu berasal dari telinga. 


Terkadang, mereka yang hidup dalam keterbatasan justru lebih mampu memahami esensi keindahan hidup, karena mereka melihat dunia dengan hati yang paling murni.

 

Di balik kegelapan yang menyelimutinya, ia menyimpan pandangan yang sangat luas. Baginya, dunia ini indah—bukan karena pemandangannya, tapi karena ada rasa, ada kasih, dan ada kehadiran orang-orang yang ia kenal lewat perasaannya. 


Sebuah pengingat bagi kita semua, bahwa keindahan dunia ini ada untuk dirasakan, bukan hanya dilihat.

 

 Penulis 

(Raden Oji M,. C. BJ)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama