Bantah Pernyataan Ketua APDESI Jabar, Korban Beberkan Kronologi Lengkap Insiden Pebayuran



BEKASI
- Jejakkabar.web.id -  2 Juni 2026 – Pernyataan Ketua DPD APDESI Jawa Barat, Sukarya WK, yang mengaku hanya mendampingi kepolisian dalam penangkapan tersangka penggelapan mobil, dibantah tegas oleh pemilik rumah sekaligus korban insiden, Layla Rizky atau yang akrab disapa LR. 


Ia menceritakan kembali peristiwa mencekam yang terjadi di kediamannya di Kampung Pintu, Desa Bantarjaya, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, pada dini hari 30 Mei 2026.

 

Menurut keterangan LR, sekitar pukul 01.57 WIB, rumahnya didatangi sekelompok orang tak dikenal yang masuk secara paksa dengan memanjat genteng dan melompati pagar. 


Mendengar kegaduhan, LR bersama dua rekannya segera keluar untuk memeriksa sumber suara.

 

“Saat kami cek, sudah ada orang di atas balok dan di area garasi. Ketika ditegur, mereka mengaku dari kepolisian dan memaksa pintu gerbang dibuka,” ungkap LR.

 

Merasa terancam di tengah malam yang gelap, LR enggan langsung membuka gerbang dan mempertanyakan identitas serta tujuan kedatangan rombongan tersebut. Saat itulah, muncul sosok yang memperkenalkan diri sebagai Lurah WK, Ketua APDESI Jawa Barat.

 

Upaya LR memastikan legalitas kedatangan mereka justru berujung pada intimidasi. 


Saat meminta diperlihatkan surat tugas, pihak rombongan hanya menyorotkan senter ke arah dokumen dan menolak menyerahkannya agar bisa dibaca jelas.

 

Karena penglihatan saya minus, saya minta izin memegang surat itu agar tulisannya terlihat jelas. 


Tapi mereka menolak. Bahkan, salah satu orang yang diduga anak Lurah WK berkata dengan nada merendahkan :‘Lu cuma minus kan, bukan buta!’,” kenang LR.

 

Gerbang baru dibuka setelah Ketua AKPERSI DPD Jawa Barat, Ahmad Syarifudin, tiba di lokasi untuk mendampingi LR. Begitu masuk ke pekarangan, suasana semakin memanas. 


LR menyebut Lurah WK melakukan interogasi secara agresif, menanyakan identitas diri dan orang tua dengan cara yang keliru, serta terus mendesak keberadaan kakak tirinya, Ncex.

 

“Tanpa aba-aba, Lurah WK menyatakan memiliki dua pucuk pistol. 


Ia bahkan sempat menunjukkan salah satu senjata api itu di depan kami, dan menegaskan harus bertemu dengan Ncex,” tegas LR.

 

Dalam proses penggeledahan, LR menuturkan Lurah WK ikut masuk ke dalam rumah—padahal tindakan tersebut berada di luar kewenangannya—dan terus menekan pihak kepolisian agar mencari keberadaan Ncex hingga ketemu. 


Ia bahkan melarang polisi pulang sebelum Ncex ditemukan,” tambahnya.

 

Untuk membuktikan tidak ada yang disembunyikan, LR mengajak petugas memeriksa seluruh ruangan hingga ke bagian belakang rumah, dan menunjukkan bahwa tidak ada jalan keluar lain serta jendela yang sudah dipasangi teralis besi.

 

Ketegangan memuncak saat LR mencoba memberikan keterangan resmi kepada petugas kepolisian. 


Anak perempuan Lurah WK tiba-tiba memotong pembicaraan dengan emosi tinggi. 


Suasana semakin tak terkendali hingga berujung pada tindakan perusakan, di mana kendaraan dan barang milik LR dipukul dan ditendang.

 

Sebelum meninggalkan lokasi, anak perempuan Lurah WK itu melontarkan ucapan yang dianggap sangat menantang : 


Lapor sana ke polisi, gue nggak takut, polisi punya gue, biar duit bapak gue yang kerja!”

 

Akibat peristiwa tersebut, LR telah melayangkan laporan resmi ke Polsek Pebayuran dan Polres Metro Bekasi terkait dugaan tindakan perusakan barang milik, intimidasi, serta ancaman yang dialaminya pada kejadian dini hari itu. 


Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait belum memberikan tanggapan atas laporan yang telah disampaikan.


(Redaksi)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama