Jejak Kanar.web.id
Tanggal: 20 Mei 2026 – Di era media sosial saat ini, berbagi momen kehidupan sehari-hari melalui fitur status di aplikasi pesan singkat seperti WhatsApp sudah menjadi hal yang lumrah.
Mulai dari kegiatan bekerja, berlibur, hingga sajian makanan lezat sering kali diunggah dan diperlihatkan kepada banyak orang.
Namun, di balik kebiasaan itu, muncul pandangan kritis dan peringatan penting : memamerkan makanan di status WhatsApp adalah perbuatan yang kurang tepat, bahkan bisa dikatakan salah.
Alasannya sangat mendalam dan menyentuh rasa kemanusiaan.
Di sekeliling kita, di luar sana, masih sangat banyak saudara kita yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar, termasuk mendapatkan makan.
Masih banyak orang yang perutnya belum terisi, anak-anak yang menangis kelaparan, dan keluarga yang sulit mencari rezeki sekadar untuk makan sehari saja.
Ketika seseorang dengan bangganya memamerkan hidangan enak, mewah, atau berlebihan di media sosial, hal itu bisa terlihat sebagai bentuk pemborosan,
kesombongan, dan ketidakpekaan terhadap penderitaan orang lain.
Tindakan ini tidak hanya memicu rasa iri atau perasaan kurang nyaman bagi yang melihatnya, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai kepedulian dan rasa syukur.
Sebab, nikmat makanan yang kita dapatkan seharusnya membuat kita semakin rendah hati dan terdorong untuk berbagi, bukan justru dipamerkan untuk mencari pujian.
Pesan ini mengingatkan kita untuk lebih bijak dan memiliki hati yang peka. Nikmat yang kita miliki adalah titipan, dan cara terbaik mensyukurinya adalah dengan menjaga.
kesederhanaan, serta berusaha meringankan beban mereka yang kekurangan, alih-alih mempertontonkan kenikmatan tersebut di tengah mereka yang sedang sulit mendapatkannya.
Kesederhanaan dan kepedulian adalah cerminan akhlak yang mulia, jauh lebih berharga daripada sekadar pujian dari unggahan di media sosial.
EDITOR : Raden Oji M,. C. BJ




Posting Komentar