BOGOR || Jejakkabar.web.id - Sejak awal tahun 1970-an, Gunung Sidamanik di wilayah Parungpanjang menjadi pusat penambangan batu andesit yang sangat penting untuk pembangunan Jakarta dan sekitarnya . Sebelum truk tronton berkapasitas besar beroperasi sekitar akhir 1990-an, pengangkutan batu memiliki kisah dan kebiasaan yang masih diingat warga hingga kini.
Alat Angkut Awal
1. Yang di sebut Mobil Beyawak Sampai pertengahan 1970-an, batu dari tambang diangkut menggunakan mobil Beyawak.
Jalurnya melewati jalan tanah berbatu, melintasi perkampungan dan aliran sungai, memakan waktu 1 jam dari lokasi tambang hingga stasiun Parungpanjang atau gudang pengumpul di Cigudeg .
Konon, pengemudi mobil Beyawak, memiliki jalan rahasia di lereng Sidamanik agar tidak melewati jalan utama yang berlumpur saat hujan.
2. Colt Diesel & Truk Kecil: Masuk tahun 1980-an, mulai digunakan truk Colt Diesel dan truk Hino kecil berkapasitas 5–7 ton.
Inilah masa keemasan para pengemudi, dijuluki "Pahlawan Jalan Tanah".
Setiap truk dicat warna cerah dengan tulisan nama pemilik atau semboyan doa keselamatan, dan setiap sore berkumpul di warung pinggir jalan Sidamanik untuk berbagi cerita dan memperbaiki kendaraan.
3. Kereta Api Barang: Sebagian batu juga dikirim lewat jalur kereta api Parungpanjang–Rangkasbitung, dimuat dari jalur cabang dekat tambang menuju gudang di Jakarta, namun volume terbatas dan hanya beroperasi saat rel dalam kondisi baik .
Kisah & Legenda Lisan
- "Jalur Hantu Sidamanik": Konon di tikungan tajam dekat mata air Sidamanik, sering terdengar suara lonceng gerobak meski tidak ada kendaraan lewat.
Warga meyakini itu penunggu jalan yang menjaga keselamatan pengangkut batu; pengemudi selalu memberi sesajen berupa air dan beras sebelum melintas.
Persaudaraan Pengangkut: Jika ada truk terperosok atau rusak, semua pengemudi yang lewat akan berhenti membantu tanpa diminta. Ada aturan tak tertulis: "batu sama batu, saudara sejalan".
Banyak nama panggilan legendaris masih dikenang, seperti Abah Garut, Si Gundul, atau Pak Etek, yang dikenal paling pandai menembus jalan berlumpur.
Tanda Alam: Sebelum berangkat, pengemudi akan melihat awan di atas Gunung Sidamanik.
Jika awan berwarna kemerahan di pagi hari, berarti jalan akan licin dan berbahaya.
Peralihan ke Truk Tronton
Sekitar tahun 1998–2000, mulai masuk truk tronton berkapasitas 25–30 ton. Pengangkutan menjadi jauh lebih cepat dan jumlah pengiriman meningkat drastis, namun jalan raya mulai rusak parah, dan perlahan tradisi serta kebiasaan lama mulai hilang.
Namun nama Sidamanik tetap melekat sebagai asal mula semua aktivitas tambang di jalur Parungpanjang–Cigudeg ini.
Editor
(Raden Oji,. C. BJ)

Posting Komentar