11 Mei 2026 || Jejakkabar.web.,id – Bagi warga tua kenangan tentang suasana kampung sebelum aliran listrik masuk masih terukir jelas dalam ingatan.
Sekitar tahun 1970-an hingga awal 1980-an, saat jaringan listrik belum menjangkau pelosok perkampungan, hari-hari warga ditutup dengan irama yang damai. Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah jingga bersamaan berkumandangnya azan Maghrib, keremangan mulai menyelimuti pemukiman.
Penerangan hanya mengandalkan lampu tempel berbahan minyak tanah atau pelita kecil yang menyalakan cahaya redup di setiap sudut rumah.
Namun, dalam keremangan itulah keindahan dan ketenangan justru terasa semakin mendalam. Seusai salat Maghrib, suasana kampung tidak sepi, melainkan dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur'an yang terdengar bersahutan dari surau-surau kecil dan beranda rumah warga. Anak-anak berkumpul di pengajian, sementara orang tua duduk berkelompok di serambi rumah, saling bertukar kabar sambil mendengarkan irama bacaan yang merambat lembut terbawa angin sore.
“Dulu tidak ada televisi atau cahaya lampu terang, tapi hati dan hubungan antarwarga terasa sangat dekat.
Suara mengaji terdengar dari ujung ke ujung kampung, menciptakan suasana damai yang sulit dilukiskan,” ujar salah satu tokoh warga Kampung Bontit.
Selain nilai religius, momen sebelum masuknya listrik juga menjadi waktu penguat tali persaudaraan. Tidak ada batasan waktu yang kaku; kedatangan tetangga untuk berkunjung atau belajar mengaji dianggap hal biasa dan penuh keramahan.
Kini, meski listrik sudah menerangi setiap sudut kampung dan fasilitas semakin lengkap, kenangan akan suasana hangat dan lantunan mengaji di kala senja itu tetap menjadi cerita berharga yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan zaman, nilai kebersamaan dan kesalehan tetap menjadi akar budaya yang dijaga warga Kabupaten Bogor.
Editor
(Raden Oji M,. C. BJ)



Posting Komentar