Legenda Perawan Tua || Jejakkabar.web.id
Di sebuah kampung yang dikelilingi perbukitan, tinggallah seorang wanita bernama Ratna.
Ia dikenal sebagai wanita yang sangat cantik, pandai menenun, dan berasal dari keluarga terpandang.
Saat usianya menginjak 20 hingga 25 tahun, banyak pemuda datang melamar.
Ada yang anak saudagar kaya, ada yang anak pejabat desa, hingga pemuda petani yang rajin dan jujur.
Namun, Ratna selalu merasa kurang. Kepada pemuda kaya ia berkata, "Harta saja tidak cukup, aku butuh lelaki yang tampan."
Kepada pemuda tampan ia berkata, "Wajah elok tak menjamin masa depan, aku butuh yang berilmu." Kepada pemuda berilmu ia berkata, "Terlalu serius, aku ingin yang pandai berbicara dan menyenangkan hati."
Begitu terus, ia selalu mencari kekurangan pada setiap orang yang datang, yakin bahwa kelak akan ada seseorang yang sempurna datang menjemputnya.
Tahun berganti tahun. Usia Ratna kini menginjak 40 tahun.
Kecantikannya mulai memudar, kerutan halus terlihat di sudut mata, dan langkahnya tak lagi selincah dulu. Para pemuda yang dulu melamarnya sudah berumah tangga dan memiliki anak.
Warga kampung mulai memanggilnya "Perawan Tua", bukan dengan rasa hormat, melainkan sering kali disertai bisikan dan pandangan iba.
Ratna hidup sebatang kara.
Orang tuanya telah tiada, saudara-saudaranya sudah memiliki keluarga sendiri.
Di malam hari, saat hujan turun dan angin bertiup kencang, ia sering duduk sendirian di beranda rumahnya yang mulai lapuk. Ia baru menyadari kesalahannya: ia terlalu sibuk mencari kesempurnaan pada orang lain, padahal kesempurnaan itu tidak ada di dunia ini.
Ia menolak kebahagiaan yang sudah ada di depan mata hanya karena ingin sesuatu yang tak nyata.
Suatu hari, seorang tetua desa menemuinya dan berkata, "Ratna, waktu adalah harta yang tak bisa dibeli kembali.
Menikah bukan mencari orang tanpa cela, melainkan belajar saling melengkapi kekurangan satu sama lain.
Kebahagiaan bukan hasil dari mencari yang terbaik, tapi hasil dari berusaha menjadi pasangan yang baik."
Sejak saat itu, Ratna membuka hatinya.
Ia mulai membantu tetangga, mengajari anak-anak kampung menenun, dan hidup dengan rendah hati.
Ia tak lagi menyesali masa lalu, namun mengisi sisa hidupnya dengan kebaikan.
Ia menyadari bahwa menjadi "perawan tua" bukanlah aib, tetapi pengingat bahwa setiap fase kehidupan memiliki waktunya masing-masing, dan mensyukuri apa yang ada adalah kunci ketenangan hati.
Pesan Moral
1. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, manusia pasti memiliki kekurangan.
2. Jangan terlalu pemilih hingga melewatkan kesempatan kebahagiaan yang ada di depan mata.
3. Waktu tidak bisa diputar kembali, gunakanlah setiap kesempatan dengan bijak.
4. Kebahagiaan dalam hubungan dibangun dari rasa saling menerima dan melengkapi.
Pengarang Editor
(Raden Oji M,. C. BJ)




Posting Komentar