Legenda || Jejakkabar.web,id
Bang Pitung adalah sosok legendaris jagoan masyarakat Betawi yang hidup sekitar tahun 1866–1893 di Batavia (sekarang Jakarta) pada masa penjajahan Belanda.
Ia dikenal sebagai tokoh yang membela kaum tertindas dan melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh para tuan tanah serta penguasa kolonial.
Asal Usul dan Kehidupan Awal
Ia lahir di Kampung Pengumben, Rawa Belong, Jakarta Barat, sebagai anak keempat dari pasangan Bang Piung dan Mbak Pinah.
Julukan "Pitung" konon berasal dari kata pituan pitulung yang berarti "tujuh sekawan yang saling menolong", menggambarkan sifatnya yang suka berbagi dan berkerjasama dengan sesama masyarakat miskin.
Semasa muda, ia menuntut ilmu agama dan bela diri di pesantren Haji Naipin, sehingga ia memiliki akhlak yang baik serta kemampuan silat yang hebat.
Alasan Beraksi
Kisah hidupnya berawal ketika ia membantu ayahnya menjual kambing.
Suatu hari, hasil penjualan tersebut dirampok oleh komplotan orang-orang kaya dan penguasa yang sewenang-wenang.
Peristiwa itu membuatnya marah dan bertekad melawan ketidakadilan.
Dalam cerita rakyat, ia digambarkan seperti pahlawan rakyat layaknya Robin Hood
ia mengambil harta orang-orang kaya, terutama kalangan Belanda dan tuan tanah korup, kemudian dibagikan kepada keluarga miskin dan orang-orang yang tertindas .
Ia sering menggunakan kepandaiannya untuk menipu pihak berwenang, misalnya dengan menyamar sebagai pegawai pemerintah, sehingga ia dapat masuk ke rumah-rumah orang kaya dan mengambil hartanya tanpa banyak kecurigaan.
Aksi-aksinya sempat menjadi perhatian luas, bahkan diberitakan di surat kabar masa itu, dan pihak berwenang memberikan hadiah uang sebesar 400 gulden bagi siapa saja yang dapat menangkapnya hidup atau mati.
Akhir Kehidupan
Bang Pitung dua kali berhasil ditangkap oleh polisi kolonial, namun selalu berhasil melarikan diri berkat kepandaian dan kecerdikannya.
Namun pada tanggal 14 Oktober 1893, ia terkepung oleh pasukan pimpinan Schout Hinne di area pemakaman Tanah Abang.
Dalam pertempuran itu, ia terluka parah, dan kabarnya kematiannya terjadi karena ia telah memotong rambutnya sehari sebelumnya — padahal menurut kepercayaan saat itu, kesaktiannya akan hilang jika ia melepas jimat atau memotong rambutnya.
Jenazahnya dimakamkan di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Hingga kini, makamnya tetap dihormati dan dijaga oleh masyarakat setempat sebagai bentuk penghargaan atas jasanya selama membela kebenaran.
Makna dan Warisan
Sampai saat ini, sosok Bang Pitung tetap menjadi bagian penting dari budaya dan identitas masyarakat Betawi.
Ia menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan, semangat membela sesama, dan keberanian melawan ketidakadilan.
Kisahnya sering diangkat ke dalam cerita rakyat, lagu, hingga karya seni pertunjukan dan film, sehingga namanya tetap dikenang dan dicintai hingga generasi sekarang.
Editor
(Raden Oji M,. C. BJ)


Posting Komentar