Pertemuan Hangat: Suku Baduy Sunda Wiwitan dan Pribumi Bogor Sunda


BOGOR - JEJKKABAR - WEB - ID - Di bawah teduhan pohon keramat, di tengah hening lembah yang sejuk, dua kelompok bersaudara sesama anak tanah Sunda duduk melingkar—Suku Baduy dan Pribumi Bogor Sunda Wiwitan. Tanpa sekat, tanpa jarak, hanya ada senyum tulus dan rasa hormat yang mengalir di antara mereka.

 



Tukar Cerita dan Pengalaman — Saling Mengenal

 

Orang Baduy: Sanjaya

 


"Kami hidup mengikuti aturan karuhun, menolak kemewahan, menjaga hutan tetap hijau. 


Kami tidak memakai alas kaki, pakaian sederhana—semua agar selaras dengan alam. 


Hutan adalah dapur, hutan adalah dinding rumah kami."

 

Warga Sunda Bogor: Raden Oji

 

"Kami juga berpegang pada ajaran luhur Sunda Wiwitan: ngukur ka katurang, ngitung ka papatuk — menghormati leluhur, menjaga keseimbangan langit dan bumi. Kami merawat situs keramat, sungai, dan gunung. Perubahan zaman ada, tapi hati kami tetap pada akar budaya sendiri."

 

Mereka saling bertanya: tentang cara merawat lebah hutan, tentang cara menjaga tanaman tetap subur tanpa bahan kimia, tentang doa-doa sebelum memanen hasil hutan. 


Setiap cerita disambut dengan anggukan dan senyum — bukan perbedaan yang dilihat, melainkan persamaan di hati.

 

 

Mencicipi Madu Lembah — Rasa Satu Hati.

 

Kemudian mereka membuka wadah madu yang diambil dari hutan lembah yang sama. 


Warnanya keemasan, harumnya semerbak bunga hutan. Setiap orang mencicipi setetes madu itu di ujung lidah.

 

"Manisnya sama, meski diambil dari pohon berbeda." — kata salah satu tetua.

 

Madu itu menjadi simbol: meski tempat tinggal dan cara hidup berbeda, kita berasal dari satu tanah Sunda, satu leluhur, satu rasa. 


Manisnya alam dinikmati bersama, dan tanggung jawab menjaganya pun harus dipikul bersama. 

 

 

Pesan dari Pertemuan Itu

 

Saling menghormati perbedaan cara hidup, karena semua kembali ke satu tujuan: selaras dengan alam dan leluhur.


Menjaga hutan dan sungai bukan tugas satu suku saja, melainkan tugas semua anak negeri.



Berbagi hasil bumi berarti berbagi berkah.

 

Saat matahari mulai terbenam, mereka berpisah dengan hati yang lebih erat, berjanji untuk kembali bertemu — membawa pesan damai, merawat bumi, dan menjaga persaudaraan tetap hidup. 


(Raden Oji M,.C. BJ)


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama