Sejarah Menara Banten

 


 Banten || Jejakkabar.web.id  - Menara Banten adalah ikon bersejarah bagian dari kompleks Masjid Agung Banten, terletak di Desa Banten Lama, 


Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Bangunan ini menjadi saksi kejayaan Kesultanan Banten pada abad ke-16 hingga ke-17, dan merupakan salah satu warisan budaya akulturasi berbagai peradaban dunia.

 

1. Waktu Pembangunan & Pendiri

 

Dibangun sekitar tahun 1632 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (Sultan ke-4 Kesultanan Banten) .


Perancang awal adalah arsitek asal Tiongkok bernama Cek Ban Cut / Tjek Ban Tjut, yang kemudian diberi gelar kehormatan Pangeran Wir Adiguna atas karyanya.


Sekitar tahun 1683, dilakukan penyempurnaan dan penambahan unsur arsitektur Eropa oleh Hendrik Lucasz Cardeel, arsitek berkebangsaan Belanda yang masuk Islam dan menjadi penasihat kesultanan.

 

2. Bentuk & Arsitektur

 

Tinggi bangunan mencapai 24 meter, diameter dasar 10 meter, terbuat dari batu bata merah yang kokoh.


Berbeda dengan menara masjid lain di Nusantara yang berbentuk kerucut atau segi empat, bentuknya menyerupai mercusuar atau cerobong kapal. Ini merupakan perpaduan gaya arsitektur Nusantara, Tiongkok, dan Eropa.


Di puncak terdapat ornamen bunga teratai (simbol budaya Tiongkok dan Buddha), serta ornamen ukiran khas Eropa. Untuk mencapai puncak harus melewati lorong melingkar dan 83 anak tangga.

 

3. Fungsi Sejarah

 

1. Tempat kumandang adzan: Sebagai fungsi utama menara masjid.


2. Menara pengawas: Dari ketinggiannya, penjaga dapat memantau perairan Teluk Banten sejauh 1,5 km, mendeteksi kedatangan kapal dagang maupun kapal musuh, karena saat itu Banten merupakan pelabuhan perdagangan internasional teramai di Nusantara.


3. Konon juga pernah berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata saat masa perang mempertahankan kedaulatan kesultanan.

 

4. Nilai Sejarah & Warisan

 

Menara ini menjadi bukti toleransi dan kemajuan zaman Kesultanan Banten, di mana berbagai bangsa dan budaya hidup berdampingan damai. Hingga kini masih berdiri kokoh meski berusia lebih dari 400 tahun. Saat ini akses ke bagian dalam ditutup untuk menjaga kelestarian bangunan, namun tetap menjadi tujuan utama wisata religi dan sejarah di Banten.

 

 

Editor

(Raden Oji M, C.BJ)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama