Asal Usul Nama
KAB. BOGOR || Jejakkabar.wrb.id - Kapung Leles: Berasal dari bahasa Sunda, Kapung berarti dataran rendah atau tanah yang agak mendatar, sedangkan Leles bermakna halus, rata, atau tenang. Nama ini menggambarkan kondisi geografis wilayah tersebut yang datar dan subur, dialiri anak sungai Cisolok yang menjadikan tanahnya cocok untuk pertanian.
Safan: Merupakan sebutan dari nama tokoh utama yang dimakamkan di tempat ini, yaitu Syekh Muhammad Safan, seorang ulama penyebar agama Islam yang datang ke wilayah Bogor sekitar abad ke-18.
Kramat ini menjadi salah satu situs ziarah tua yang dihormati warga setempat.
Riwayat Tokoh
Syekh Muhammad Safan diketahui berasal dari wilayah Banten, datang ke Parungpanjang atas permintaan masyarakat setempat untuk mengajarkan ajaran Islam dan mengatasi berbagai masalah sosial serta keamanan wilayah.
Ia bermukim di sekitar kawasan Leles, mengajarkan ilmu agama, pertanian, dan tata kehidupan bermasyarakat. Berkat ketekunannya, Islam berkembang pesat di desa Jagabita dan sekitarnya.
Beliau wafat sekitar tahun 1780 M dan dimakamkan di bukit kecil kawasan Kapung Leles, yang kemudian dijadikan tempat ziarah dan diberi nama Kramat Safan.
Perkembangan dan Nilai Sejarah
1. Masa Kolonial: Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan ini menjadi salah satu pusat penyebaran agama dan budaya Sunda Islam. Warga sekitar sering berkumpul di sekitar makam untuk mengaji dan membahas masalah desa, sehingga berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial keagamaan.
2. Tradisi Ziarah: Hingga kini, setiap bulan Maulid atau hari-hari besar Islam, ribuan peziarah datang berkunjung.
Ada tradisi doa bersama dan sedekah yang diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan dan permohonan berkah.
3. Warisan Budaya: Bangunan makam dan lingkungan sekitar masih mempertahankan arsitektur tradisional Sunda, berupa pagar batu alam dan atap berbentuk limasan.
Situs ini juga menjadi batas wilayah adat masyarakat Jagabita sejak masa lalu.
Status Saat Ini
Kramat Safan Kapung Leles diakui sebagai cagar budaya tingkat desa dan dijaga oleh pengurus yayasan setempat. Pemerintah Kabupaten Bogor telah memasukkannya ke dalam daftar objek wisata religi di wilayah Parungpanjang, sekaligus menjadi saksi sejarah masuk dan berkembangnya Islam di bagian barat Kabupaten Bogor.
Editor
(Raden Oji M,. C. BJ)

Posting Komentar