Masih ingatkah Masa Kecil : zaman Sebelum ada HP Android, Dunia Kita Penuh Dengan Tawa dan Kebersamaan.






Jejakkabar.web.id - Masih ingatkah Masa Kecil : zaman Sebelum ada HP Android, Dunia Kita Penuh Dengan Tawa dan Kebersamaan.


Semua permainan dibuat sendiri dari bahan di sekitar rumah, dan kita menghabiskan waktu seharian di luar sampai dipanggil orang tua saat menjelang Maghrib. 




Ini cerita permainan yang paling sering kita mainkan dulu:

 

1. Umbul-umbul / Layangan

Biasanya dimainkan saat musim angin. 



Dibuat dari bambu tipis dan kertas minyak atau plastik bekas pembungkus makanan. 



Bentuknya bermacam-macam: ada yang bentuk burung, ikan, atau belalang. 


Serunya saat berlari membawa layangan agar terbang tinggi, atau adu memutuskan benang layangan teman. 


Ini jadi kenangan paling indah masa kecil.


2. Patok Lele

Menggunakan dua potong kayu, satu pendek sebagai pemukul dan satu lagi agak panjang. Kayu pendek dipukul agar melompat jauh ke udara. 


Siapa yang kayunya terbang paling jauh, dialah pemenangnya.


Sering dimainkan berkelompok di tanah lapang desa.


3. Perang-perangan

Kita membuat senjata sendiri dari bambu: ada senapan bambu yang pelurunya dari kertas basah, atau pedang dari potongan bambu.

 

Lalu berbagi peran menjadi dua kelompok, lari-larian di kebun atau pinggir sawah sambil tertawa dan berteriak.


4. Cublak-cublak Suweng

Permainan bernyanyi sambil bergerak berkeliling. 


Satu orang menutup mata, sementara yang lain menyembunyikan batu kecil di tangan salah satu teman. 


Lagu khasnya selalu dinyanyikan bersama, dan serunya saat menebak siapa yang memegang batu tersebut.


5. Kejar-kejaran / Macan dan Kancil

Satu orang jadi macan yang bertugas menangkap teman-temannya yang berperan jadi kancil. 


Siapa yang tertangkap, dia ganti jadi macan. Badan berkeringat dan debu tanah jadi tanda kita sudah bermain seharian.


6. Boneka dari Daun atau Jerami

Untuk anak perempuan, kita membuat boneka dari daun pisang, bunga, atau jerami kering. 


Menjahit bajunya dari kain perca bekas, lalu berpura-pura seolah sedang mengurus anak atau memasak masakan dari tanah dan daun.

 

Dulu kita tidak tahu arti bosan, karena teman bermain ada di mana-mana. 


Hujan pun tidak menghentikan kita, justru sering main kapal-kapalan dari daun pisang di genangan air jalanan. 


Semua ini mengajarkan kita cara bergaul, berbagi, dan berimajinasi tanpa layar gawai.

 

Editor

(Raden Oji M,. C. BJ)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama