Jejakkabar.web.id
Masih sangat lekat dalam ingatan, dulu setiap tiba hari libur sekolah, hati rasanya sudah melayang-layang tak tenang.
Aku dan teman-teman sekampung sudah berjanji sejak hari sebelumnya: kami akan pergi memancing ke daerah Cimatuk.
Tempat itu memang jadi tujuan favorit kami, airnya jernih, katanya banyak ikan, dan suasana alamnya sejuk sekali.
Begitu pagi datang, kami berangkat beriringan, membawa peralatan seadanya—ada yang pakai joran buatan sendiri, ada yang pakai tali dan kail sederhana.
Sepanjang jalan kami tertawa, bercanda, dan berharap dapat banyak ikan.
Betapa senang dan riang hati kami saat itu, rasanya dunia milik berdua saja.
Duduk berjam-jam di pinggir air, menunggu umpan disambar ikan, berteriak kegirangan kalau ada yang berhasil dapat tangkapan, semua itu jadi kebahagiaan sederhana yang tak tergantikan.
Kami pulang saat matahari sudah condong ke barat, badan lelah tapi hati puas sekali.
Namun, kebahagiaan itu seketika lenyap begitu sampai di rumah.
Baju penuh noda tanah dan lumpur, kulit gosong terbakar matahari, dan ternyata kami pulang jauh melewati batas waktu yang diperbolehkan.
Alih-alih dipuji karena dapat ikan, aku malah dimarahi habis-habisan oleh orang tua.
Katanya kami nekat, tidak tahu waktu, dan membuat mereka cemas setengah mati menunggu.
Dulu rasanya kesal dan tidak terima, tapi sekarang kalau diingat-ingat, kemarahan itu justru bukti kasih sayang mereka, dan kejadian itu jadi salah satu kenangan paling manis dari masa kecilku.
EDITOR : Raden Oji M,. C. BJ


Posting Komentar