Dulu Gotong Royong Tulus Hati Tanpa Pamrih, Kini Berubah Jadi Hitung-Hitungan Upah

Kab. Tangerang - Jejak Kabar-wweb-id

 




TANGERANG – Masih teringat jelas di ingatan para orang tua dan warga lama, betapa kental dan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat di masa lalu. 





Dulu, budaya gotong royong sudah menjadi darah daging dalam kehidupan bermasyarakat. 


Apapun pekerjaannya, besar maupun kecil, selalu dikerjakan bersama-sama dengan hati yang ikhlas.

 

Ketika akan membangun atau memperbaiki jalan, jembatan, fasilitas ibadah, hingga membantu mendirikan rumah warga atau persiapan hajatan, seluruh warga berdatangan tanpa diminta. 


Mereka bekerja sekuat tenaga, bergotong royong dari pagi hingga sore, membawa peralatan masing-masing, dan yang paling mulia : sama sekali tidak mengharapkan upah, uang lelah, atau jatah apa pun. 


Tujuannya hanya satu, menyelesaikan pekerjaan bersama demi kepentingan umum dan mempererat persaudaraan. 


Makan dan minum yang disediakan tuan rumah atau pengurus pun diterima sekadar tanda terima kasih, bukan sebagai imbalan kerja.

 

Namun, sangat terasa bedanya dengan kondisi masyarakat pada zaman sekarang. Semangat keikhlasan yang dulu begitu kental, perlahan namun pasti mulai memudar dan berganti pemahaman. 


Kini, ketika ada pekerjaan umum seperti perbaikan fasilitas ibadah, jalan rusak, atau bantuan membangun rumah, hal pertama yang sering kali ditanyakan adalah: "Ada upahnya berapa?", 


"Dapat jatah berapa?", atau "Dikasih apa saja?".

 

Gotong royong yang dulunya murni karena rasa persaudaraan dan kewajiban sosial, kini banyak yang berubah menjadi transaksi pekerjaan. 


Banyak warga yang enggan membantu jika tidak ada imbalan materi yang ditawarkan. Bahkan untuk urusan yang menyangkut kepentingan bersama dan kemaslahatan umum, rasa keikhlasan itu seolah hilang, tergantikan dengan hitung-hitungan untung rugi.

 

Perubahan ini menjadi keprihatinan bersama para tetua adat, tokoh masyarakat, dan warga yang masih merasakan indahnya kebersamaan zaman dulu. 


Menurut mereka, nilai luhur sami rasa sami asih dan semangat gotong royong tanpa pamrih adalah kekuatan utama bangsa ini yang mulai tergerus.

 

"Memang beda sekali dulu dan sekarang. 


Dulu kalau ada pekerjaan, warga datang sendiri berbondong-bondong, tidak ada yang tanya bayaran. 


Yang penting selesai, selesai bersama. Sekarang sayang sekali, budaya itu mulai hilang. Kalau tidak ada uang jatah, rasanya berat sekali mengajak berkumpul dan bekerja bersama," ungkap salah satu warga.

 

Meski demikian, harapan agar semangat lama kembali tumbuh masih terus digaungkan. 


Banyak pihak berharap, budaya luhur nenek moyang yang mengutamakan kebersamaan di atas kepentingan pribadi, bisa kembali dihidupkan, agar lingkungan tetap rukun, damai, dan saling mengasihi seperti sediakala.


EDOTOR : Raden Oji M, C. BJ

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama